[Re-Post] Aku Bukan Untukmu (Rakka)


Aku Bukan Untukmu (Rakka)

cerpen ini pernah dipublikasikan di majalah sekolah -Selasar-“
 
Karya : Sheila Ruth Sartika
Date : 21 April 2013
OST : Rossa – Aku Bukan Untukmu


Rakka masih diam dihadapanku. Menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku melihatnya kembali. Mencoba meyakinkan apa maksud hati ini. Apakah ini yang kurasakan sama dengan yang kau rasakan?
Dia datang tanpa kuminta. Dia datang memang dia akan datang. Untukku. Berkali – kali dia datang. Hanya untukku. Walaupun seperti itu. Walaupun aku belum mengerti rasa ini. Tapi ia selalu datang. Datang berkali – kali hanya untukku.
Ia datang untukku. Untuk yang ketiga kalinya menyatakan kegundahan hatinya. Akan rasa yang tak biasa untukku. Setiap kali Rakka ucapkan kata – kata manis itu dari mulutnya dengan suaranya yang indah, aku hanya tersenyum. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku belum mengerti rasa ini untuknya. Memang terasa berbeda, tapi itukah rasa yang dimaksud?
Kau masih kembali kepadaku. Walaupun jawabanku untuk keberanian terdalammu hanya senyuman. Kau tak berpaling. Kau hanya kembali kepadaku. Berkali – kali. Meskipun ruang memisahkan kita. Kau tetap kembali. Untukku. Hanya untukku. Untuk aku yang masih tak mengerti apa arti rasa yang kurasa.
Dahulu kau begitu. Dahulu kau hanya untukku.
Dahulu kau sangat mencintaiku.
Dahulu.
Itu kau yang dahulu.

Aku belajar darimu. Bagaimana rasa itu tumbuh perlahan. Bagaimana ketulusanmu ku rasa benar. Aku belajar darimu. Rakka. Mengajarkanku rasa ini. Rasa tulusku yang mulai kurasa. Rasa yang mungkin dari dulu telah Rakka rasakan untukku.
Aku mulai meyakini hati ini. Perasaan ini memang perasaan yang berbeda dari yang kurasakan. Aku kini berharap ia datang kepadaku untuk menyatakan perasaannya untuk kubalas. Aku takkan membalas itu dengan senyuman saja. Akan aku balas dengan perasaanku. Dengan jawaban yang selalu Rakka nantikan dari mulutku. Dari hatiku untukmu. Rakka.
Tapi, ia tak pernah datang lagi untukku. Dia tak pernah ucapkan itu lagi untukku. Aku tak pernah ucapkan ini padanya.
Rakka telah pergi. Dengan jiwa dan raganya. Takkan pernah datang lagi untukku. Takkan ucapkan itu lagi untukku. Ucapan yang kini setiap hari aku tunggu. Untuk ku jawab dengan hatiku yang tulus untuknya.
Rakka telah meninggalkanku. Dengan kata – kata terakhirnya yang hanya kujawab dengan senyuman. Dengan pikiran masih tak mengerti dengan apa yang terjadi diantara hatiku dan hatinya. Hati Rakka. Hati yang kini aku selalu tunggu untuk kembali kepadaku. Dengan hatinya aku akan jawab dengan hatiku.
Kini setiap saat ku masih mengharapkanmu. Mengharapkan hal yang akan terjadi jika ku lakukan ini sebelum kau pergi. Sebelum Rakka meninggalkanku. Senyumanku padanya takkan pernah kulupakan. Aku mohon maafkan senyuman ini. Rakka. Untuk kaulah senyuman itu. Selalu untukmu bagiku.

Senyuman itu memang tak selalu kau anggap tulus. Senyuman itu pasti kau artikan dengan ledekan. Rakka. Itu bukan maksudku. Hatimu selalu menangis untukku. Untuk senyumanku. Untuk jawabanku atas keberanian perasaanmu itu padaku. Aku menyesal untuk senyuman ini. Jangan pernah kau lihat senyuman ini lagi. Takkan ku biarkan hatimu menangis dengan senyuman tulusku padamu. Hati Rakka. Senyumanku sebenarnya tulus untuk hati Rakka.
Rakka mungkin lelah denganku. Dengan senyumanku yang meledeknya. Rakka memilih orang lain. Wanita yang memberikan jawaban hatinya bukan hanya dengan senyuman. Tapi dengan jawaban kepastian di waktu yang tepat. Di waktu dimana Rakka menginginkan jawaban perasaannya itu padanya.
Kini, aku yang menangis. Hatiku yang menangis bukan hanya dengan senyumanmu. Tapi dengan perkataanmu padaku. Kita memang bersahabat. Tapi haruskah kau ceritakan padaku tentangnya ketika kini kumulai mengharapkanmu?
Kau masih mengingat senyumku bukan hari ini? Kau masih mengingat candaan kita bukan? Sekarang kau masih mengingatnya? Ketika kau bersamanya dan ku ingat masa – masa indahku bersamamu, aku takut. Aku tak ingin mengharapkan orang yang sudah memiliki. Kau telah memiliki yang lain. Aku masih menangis. Menahan tangisku keluar dihadapanmu. Dihadapan orang yang masih aku harapkan hingga saat ini. Karena aku bukanlah untuknya.
Aku memang mengerti. Perasaan ini makin membuncah ketika ku melihat kau bersamanya. Tapi, haruskah aku mengharapmu terus menerus sedangkan kau bersamanya? Haruskah?
Kau pasti menyadari aku masih mengharapkanmu. Tapi haruskah kita ulang cerita kita? Dari awal kita bertemu. Dari kau mulai menyukaiku. Dari kau menyatakan cintamu. Kan kuubah itu. Akan aku ubah itu semua untukmu. Hanya untuk hatimu. Hatimu Rakka.
Tapi itu takkan mungkin. Ini takdir yang terjadi. Takdir terbaik untuk kita berdua. Untukku. Untukmu. Dan untuknya. Aku hanya bagian dari masa lalumu. Masa dimana senyuman tulus ini tak berarti. Senyuman yang hangat untukmu dari hatiku dan perasaanku padamu.
Permintaanku padamu. Rakka masa laluku. Meski ku memohon dan meminta hatimu. Jangan pernah tinggalkan dirinya. Untuk diriku..