May Wish

Aku berharap segala duka mereda dan segala suka bisa membuatku bahagia. Aku tak ingin terlalu banyak beban pikiran karena itu akan merusak jiwa dan hatiku. Aku hanya ingin berpikir sederhana dan positif. Semuanya telah diatur oleh-Nya. Kita adalah bagian dari skenario-Nya.

Jangan terlalu banyak berharap padanya karena itu tidak baik. Jangan terlalu sering mengganggunya karena kamu akan dicap sebagai pengganggu. Mengganggu secukupnya. Berharap secukupnya. Bahkan kalau bisa, jangan berharap. Karena ketika ada harapan disana ada obsesi. Dan aku tak mau dia menjadi salah satu harapanku karena aku takut ia menjadi obsesiku.

Biarlah hubungan aku dan dia mengalir seperti air. Entah berujung dimana, tapi setidaknya kita pernah saling mengenal, saling perhatian dan saling memahami. Lebih dari itu? Jangan berharap. Biar ini menjadi rahasia-Nya, dan biarkan pula kita menjadi pelakonnya. Sampai mana batasannya? Aku tak tahu. Diapun begitu.

Aku tak ingin terus begini. Tapi apalah daya yang kupunya? Aku hanya baru mampu kembali lagi ke titik ini. Dan ini titik dimana ada peningkatan. Tapi, aku takut. Ketika ia tak memiliki rasa yang sama sepertiku, apa yang aku rasakan? Sakit. Lelah. Lemah. Aku hanya berharap ia bisa merasa apa yang aku rasa. Aku hanya ingin ia punya rasa seperti yang aku rasa. Aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan.

Aku masih takut untuk melukai hatiku lagi. Aku masih lelah untuk mencoba bangkit kembali. Apakah aku akan mundur saja mulai hari ini? Tapi, aku tak tahu apakah jalan yang aku lalui ini sedikit lagi menyentuhnya atau masih terlalu jauh? Ah entahlah. Yang aku rasa hari ini hanya luka dan perih.