Secret Admirer 1

Bandung, 23 April 2015

Sejak Januari 2012.
Disitulah aku mulai menyimpan rasa.
Ingin berbagi suka dan duka bersama.
Tapi, diawal itulah kita menjadi tak saling mengenal.
Teman, sahabat, atau apalah istilahnya, tak ada.
Saingan, permusuhan, mungkin itulah yang timbul.
Aku terhimpit sendiri diantara para pemujamu.
Aku hanya berjuang sendirian.
Tanpa perlu orang lain tahu bahwa akupun bisa.
Aku lelah dengan semua perlakuan yang menilai diriku begitu rendah.
Aku bukan tinggi hati, tapi aku tak mau direndahkan.
Mungkin kamu takkan mengerti bagaimana rasanya jadi aku kala itu.
Sulit.
Sempit.
Sesak.
Entah kepada siapa aku harus menyandarkan bahuku.
Karena, kau tak ada.
Karena, kau bisu.
Karena, kau buta.
Karena, kau tuli.
Yaaa, karena kau tak peka.

Aku hanya bisa merenungi apa yang terjadi.
Hingga sampai pada saatnya, beberapa bulan sebelum olimpiade kita dimulai.
Sahabatku memberikan sebuah tantangan gila, karenamu.
“Sheil, kalo kamu lolos OSN sampe tingkat provinsi, kamu baru boleh perjuangin dia.”

Sebagian motivasi diriku untuk mengikuti itu adalah kamu. (Walaupun tak seluruhnya itu kamu)
Dan aku berjuang. Aku perjuangkan tantangan itu semaksimalnya diriku.
Dan kamu tahu?
Aku berhasil.
Aku lolos.
Aku akhirnya bisa perjuangkan kamu.

Tapi, disaat itulah aku kehilanganmu.
Aku merasa kau begitu jauh.
Kau tak lagi terlihat dimataku.
Kau hilang dari hidupku.
Aku benar – benar kehilanganmu.

Mungkin kau tak merasa begitu.
Mungkin kau merasa baik – baik saja.
Mungkinkah begitu?

Hingga suatu ketika, aku melihatmu berjalan bersamanya.
Di sebuah pameran kecil.
Bercanda dan tertawa.
Aku hanya mampu melihatmu begitu.
Bahagia dan menyenangkan.
Masa remaja yang penuh dengan kehidupan.

Ketika kau bersamanya, hanya sedikit rasa sakit dihatiku.
Entah mengapa begitu mudahnya aku melepasmu begitu.
Mungkin prinsip ‘Aku bahagia asal kamu bahagia’ sudah begitu melekat didalam diriku.
Tapi, efek selanjutnya yang kamu takkan pernah rasa.

Hampa.
Sunyi.
Sepi.
Kau tlah bersamanya sementara aku..
Menyendiri disini tanpa hadirmu lagi.
Aku harus bisa melepasmu.
Tak lagi mengganggumu.
Berusaha tak lagi mengagumimu.
Walau itu butuh waktu.