Aku Hancur!

Aku kesal dengan semua ini.
Semua hal membuatku kesal termasuk teman dekatku sendiri, Mumun.
Ketika aku mengutarakan satu permintaanku, dengan sangat antusias, aku memikirkan bagaimana kata – kata yang harus aku utarakan.
“Mun. Sebelum aku sama Ramdani udah ga deket lagi, aku punya satu permintaan. Aku pengen nemuin dia sama Rama (pacarnya Mumun).
Terus, dia jawab dengan datar
“Gimana ya? Ga janji ya.”
“Hmm, iya kok gapapa, bukan permintaan sih inimah cuman harapan doang. Kan kalo harapan bisa terwujud atau engga kan ga masalah, namanya juga harapan.” ucapku dengan hati kecewa.
“Aku aja kan gatau mau ketemu sama dianya kapan.”
“Iya mun gapapa. Mungkin pas waktunya tiba, aku udah ga deket lagi sama dia.”
Mumun biasa aja. Datar.

Aku kesal dengan semuanya. Ga ada yang bisa ngerti aku. Ga ada yang bisa mahamin aku.

Aku merasa, orang – orang disekitarku tak ada yang menyukaiku atau respect kepadaku. Dan harapanku satu – satunya untuk bertahan adalah Mumun. Karena, aku merasa beruntung memilikinya.

Tapi, ketika ia melakukan itu kepadaku. Hancurlah harapanku. Apalagi yang aky harapkan untuk berada disinj.

Aku ingin pergi. Aku ingin keluar dari jurusan Agribisnis. Aku ingin keluar dari Fakultas Pertanian. Aku ingin keluar dari Universitas Padjadjaran

Aku ga betah!
Aku pengen keluar!
Aku ga punya alasan lagi untuk ada disini!
Ga ada lagi!
Aku capek!
Aku lelah!
Aku hancur sehancur-hancurnya!